Jalan Terjal, ada Surga yang Tersembunyi


Nama : Yuliana L Parit
Kelas: PBSI 2023B
NPM: 23106072
      Pagi itu saya mulai perjalan, saya memulai perjalan dari rumah bersama orang tua pada pukul 10.00. “ Kota Awan” ini adalah titik awal perjalanan saya, karena saya saja yang akan ke Liang Bala orang tua saya tidak, sebuah gua alam yang tersembunyi di Kecamatan Borong, Manggarai Timur. 
       Rute yang kami tempuh cukup nyaman jalan aspal mulus membentang dihadapan tetapi penuh tikungan tajam yang mengruskan saya tetap waspada apalgi saya jalan bersama ke dua orang tua saya. Sesekali saya membuka jendela, membiarkan udara masuk agar tidak pengap. 
      Menyetir di daerah seperti ini membuatku sadar bahwa keselamatan bukan soal kecepatan, tapi soal perhatian. Dan enkanya perjalanan jauh bersama keluarga sebaiknya kendaraan berjalan pelan untuk menikmati perjalanan. 
         Setelah itu kami singgah di Rana mese untuk berfoto-foto, istirahat sejenak, melihat keindahan Rana Mese yang di kelilingi oleh hutan tropis yang lebat, suasananya sejuk, dan jalannya bagus.



      Kami melanjutkan perjalanan jalanan berkelok di antara bukit dan lembah menyuguhkan pemandangan yang tak habis-habisnya. Hijau pepohonan, hamparan sawa, dan rumah-rumah yang di kejauhan memberi suasana akrab yang menenangkan. rangkaian tikungan yang terus menerus menguras konsentrasi. Sekitar berapa lama duduk di balik kemudi, menjaga kecepatan dan fokus di setiap belokan, membuat tubuh merasa lelah. Tapi saya harus tetap konsentrasi.
       Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Borong, sekitar pukul 01.00 perubahan suhu langsung terasa. Ruteng menyambut dengan udara sejuk dan kabut pagi menenangkan, Borong justru menawarkan terik matahari yang menyengat.        Matahari bersinar terang di atas kepala, dan panasnya seolah menyentuh kulit langsung. Jaket yang di kenakan sejak pagi harus dilepas. Keringat mulai bercucuran, membuat wajah dan punggung terasa lengket, baju mulai basah keringat terus mengalir walaupun sudah mandi. 
          Jujur saja, saya bukan tipe orang yang tahan panas. Terlalu lama berada di bawah terik matahari sering membuat saya lelah dan pusing, saya suka perjalanan tapi saya tidak kuat ke daerah panas. 
         Selanjutnya kami singgah di kaka ke dua istirahat. Kebetulan saya ada teman di Borong, dan teman SMA saya, kemudian saya mengabari dia untuk pergi ke Liang Bala, soalnya orang tua saya tidak ingin ke Liang Bala karena katanya mereka bosan ke Pantai. Teman saya rumahnya di Lehong agak jauh ke rumah kk saya dan rumah kaka saya di peot untungnya dia menggunakan motor.                         Sesampainya dia di rumah kk saya kami tidak langsung jalan istirahat beberapa jam, sekitar pukul 04.30 kami melanjutkan perjalan menuju ke liang bala menggunakan motornya. Perjalanan dari rumah kaka saya ke Liang Baala cukup baik memakan waktu sekitar 15 menit, sebelum ke sana kami membeli jajan, perjalanan di lanjutkan ke Kampung Golo Nderu, titik paling dekat dengan lokasi gua. Jalan menuju kampong ini cukup sempit dan untungnya jalannya bagus. 
        Pemandagngan di sepanjang perjalanan sungguh luar biasa perbukitan menghijau, menyejukkan mata.
Setibanya di lokasi parkir, kami tak langsung sampai di tujuan. Kami harus berjalan kaki sekitar 10 menit. Jalan menuju Liang Bala menurun cukup tajam. Langka demi langkah kami tapaki dengan hati-hati sambil berpegangan pada akar pohon dan akar liar. Liang bala perlahan muncul di depan mata. Airnya yang jernih saya melepas sandal, mencelupkan kaki ke air yang dingin, dan duduk di batu besar yang tertutup lumut. 
       Liang Bala membuat saya merasa seperti di dunia lain tenang, sejuk, dan tak terganggu.Sebagai orang yang sensitive terhadap panas, Liang Bala adalah tempat yang sempurna. Saya tidak perlu memakai topi besar atau menutupi lengan dengan jaket. Saya bisa berlama-lama tanpa takut kelelahan karena panas. Setiap sudutnya menawarkan keteduhan dan kedamaian. 
          Di sana kami duduk dan menikmati indahnya liang bala, kami mulai berfoto-foto tidak berani berenang karena ombak naik tinggi memukul karang dengan suara keras, saat itu saya takut, dan saya mengakuinya, melihat ombak seperti itu menimbulkan rasa cemas. Seperti ada yang tak pasti menunggu di ujung jalan karena semakin naik kami memutuskan untuk pindah lokasi agak jauh dari pantai.
            Sinar matahari mulai hangat keemasan, tidak lagi menyengat. Saya duduk menikmati indahnya sunset. Ombaknya sudah tak tinggi lagi, hanya gelombang kecil yang memecahkan lembut di batu-batu pinggir pantai. Udara pun berubah lebih tenang, lebih damai.